JAPAN TRIP - DAY #4 | MEIJI SHRINE, HARAJUKU, SHINJUKU

11:09 PM


Assalamualaikum!

Perjalanan di hari keempat, kembali untuk mengeksplor Tokyo. Setelah kemarin sudah menikmati tenangnya kawasan pedesaan di sekitar Fuji-yama, kali ini kembali berada di hiruk pikuk perkotaan.

Tapi tunggu dulu, berada di daerah perkotaan seperti Tokyo bukan berarti kita tidak bisa mendapatkan suasana tenang & damai layaknya pedesaan. Karena suasana seperti ini bisa kita dapatkan saat berkunjung ke destinasi pertama saya di hari keempat, yaitu Meiji Shrine.

Untuk menuju Meiji Shrine dari Ginza, kami naik JR Yamanote Line dari Yūrakuchō Station dengan tujuan Harajuku Station. Dari exit gate Takeshita Street, cukup berjalan 5 menit sudah sampai di gerbang masuk dari Meiji Shrine.


Meiji Shrine (Meiji Jingu) adalah sebuah shrine atau kuil bagi penganut agama Shinto yang dibangun pada masa kekaisaran Meiji, untuk menghormati roh dari Kaisar Meiji & istrinya Permaisuri Shoken. Lokasinya terletak di samping Harajuku Station & juga berdekatan dengan Yoyogi Park.

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya bahwa kita bisa mendapatkan suasana tenang & damai layaknya pedesaan di Meiji Shrine ini, walaupun di tengah hiruk pikuk Tokyo yang sibuk. Karena Meiji Shrine ini merupakan area hutan yang besar & luas dengan jalur pejalan kaki yang sangaaat luas (benar-benar luas!), sehingga akan sangat nyaman & cocok untuk berjalan-jalan santai. Belum lagi sambil diiringi dengan suara-suara burung gagak yang nyaring, namun tetap tidak mengganggu ketenangan.

Suasana di Meiji Shrine ini sangat sejuk & teduh, udaranya juga sangat segar, lingkungannya pun juga sangat bersih. Benar-benar dibuat nyaman untuk berkeliling di sekitarnya!

  

Tidak jauh dari gerbang masuk Meiji Shrine, akan terlihat banyak tong-tong dengan aksara Jepang beraneka ragam yang tersusun rapi sehingga tampak seperti dinding. Barisan tong-tong ini dinamakan "Barrels of Sake Wrapped in Staw" atau tong-tong penyimpanan sake yang dibungkus dengan tambang jerami. Ini merupakan simbol tradisi sekaligus bentuk rasa hormat kepada roh dari Kaisar Meiji & Permaisuri Shoken.

Semua tong tersusun sangat rapi & menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung untuk berfoto di depannya. Tenang saja, semua tong ini dalam kondisi kosong kok. Walaupun tong-tong sake ini sudah disusun sejak lama, namun kebersihannya sangat terjaga.


Selain untuk mendapatkan suasana yang tenang & damai, salah satu hal yang tidak boleh dilewatkan saat berkunjung ke Meiji Shrine adalah datang saat akhir pekan. Mengapa? Karena hanya saat akhir pekan, kita bisa melihat rangkaian upacara pernikahan tradisional Jepang.

Dan ternyata pas sekali, saya mengunjungi Meiji Shrine saat akhir pekan. Tidak hanya melihat 1 kali upacara pernikahan, tapi saya melihat 2 upacara pernikahan pada pasangan yang berbeda. Langsung saya sigap mengangkap momen tersebut melalui kamera saya.

Dalam upacara pernikahan tradisional Jepang, kedua mempelai mengenakan kimono yang mewah. Mempelai pria mengenakan "Montsuki Hakama", yaitu kimono berwarna hitam yang serupa dengan kimono yang digunakan oleh Yokozuna (juara sumo).

Sedangkan mempelai wanita mengenakan kimono berwarna putih yang dinamakan "Shiromuku", yang awalnya dipakai oleh pengantin wanita dari seorang Samurai. Tidak hanya kimono berwarna putih, namun pengantin wanita juga mengenakan "Watabōshi" yaitu hiasan kepala berupa tudung yang menutup kepala & sebagian wajah secara sederhana. Penutup kepala ini nantinya akan dibuka ketika kedua mempelai secara sah dinyatakan sebagai suami-istri. Warna putih dalam kimono mempelai wanita juga sebagai simbol kesucian seorang wanita sebelum dirinya menikah.

Sayangnya, saya tidak sempat berlama-lama untuk menyaksikan prosesi upacara pernikahan tradisional ini secara lengkap karena kami harus melanjutkan perjalanan kami ke tujuan selanjutnya.


Tujuan selanjutnya tidak jauh dari Meiji Shrine, apalagi kalau bukan sekitar Harajuku. Lebih tepatnya ke Takeshita Street, salah satu jalan di Harajuku yang paling populer.

Tidak salah bahwa Takeshita Street adalah ajalan terpopuler di Harajuku. Saat saya baru berdiri di depan jalan masuknya saja, disambut dengan lautan manusia! I know it was weekend, but I thought everyday would gonna be like this. Banyak banget ya ampun orangnya, agak males sih awalnya waktu melihat banyak orang di sepanjang jalan ini. Tapi katanya belum "sah" ke Harajuku, jika tidak mampir ke Takeshita Street. Jadi, mari kita mampir.

To be honest, saya gampang pusing kalau liat kerumunan orang-orang. Itulah mengapa saat saya berada di Takeshita Street, saya tidak banyak mengambil foto. Hanya melihat beberapa toko saja & membeli jaket untuk adik, lalu kembali ke depan pintu gerbang. Sisanya, membeli Takoyaki yang tidak jauh dari sana untuk makan siang bersama orangtua saya.


Setelah makan siang, kami lanjut berjalan kaki menuju Oriental Bazaar. Oriental Bazaar adalah salah satu pusat oleh-oleh khas Jepang yang berada di antara Harajuku & Omotesando. Untuk harga barang-barang yang dijual di sini ada bisa dikatakan harga menengah, namun banyak sekali pilihan barang yang bisa dijadikan oleh-oleh atau kenang-kenangan. Mulai dari pakaian, pernak-pernik, kimono, hingga bonsai.

Semua petugas di Oriental Bazaar bisa berbahasa Inggris dengan cukup baik. Jadi jangan khawatir akan kesulitan untuk bertanya. Oh iya, toko ini juga termasuk "Japan Tax-Free Shop". Apa itu "Japan Tax-Free Shop" insyaAllah akan saya tulis pada postingan yang lain.

Setelah dirasa cukup membeli oleh-oleh, kami menuju Meiji-Jingūmae Station untuk naik Fukutoshin Line menuju Shinjuku-Sanchōme. Keluar dari Shinjuku-Sanchōme Station, ada banyak pusat perbelanjaan ternama seperti: Isetan, Lumine, hingga BICQLO. Dari sekian banyak pusat perbelanjaan, saya hanya tertarik untuk melihat BICQLO.

BICQLO adalah gabungan dari BIC Camera & Uniqlo, di mana dalam satu gedung menjual mulai dari pakaian-pakaian, alat elektronik, hingga kamera & aksesorisnya. Saya langsung fokus masuk ke BICQLO menuju lantai penjualan kamera & aksesoris, apalagi kalau bukan cek harga lensa kamera. Duh, lihat display lensa kamera aja udah senang sendiri.


Kami tidak berlama-lama berada di Shinjuku, karena harus melanjutkan perjalanan dari Shinjuku-Sanchōme Station untuk naik Marunouchi Line menuju Tokyo Station. Ada apa di Tokyo Station?

Ternyata di Tokyo Station adalah untuk makan malam di Shingenoi, dengan menu utama yakitori (sate ayam a la Jepang). Enak banget ternyata rasanya, padahal bumbunya hanya garam & lada saja. Memakannya pun tanpa saus apapun, tapi rasanya sudah lezat. Jujur saja, saya lebih suka yakitori daripada sate taichan walau sama-sama tidak berbumbu kacang atau kecap seperti sate di Indonesia.


Makan malam di Shingenoi menutup perjalanan hari keempat & artinya tinggal beberapa hari lagi kami berada di Tokyo. Kira-kira akan ke mana lagi di hari selanjutnya? Stay tune!

Salaam,
IndahRP

******************************
READ MORE

You Might Also Like

11 comments

  1. Oh..Japan. Pesonanya benar-benar menggoda banget. Aku ngga pernah berhenti mimpi supaya bisa ke Jepang juga. Sambil nabung pastinya.

    Itu beneran pernikahan adat Jepang ya ndah? Unik banget bajunya dan cantik. Salah satu daya tarik jepang ya budayanya itu. Aku jadi tambah mupeng deh liat foto-foto jepang disini. Semoga kesampaian bisa ke Jepang :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan pernah berhenti bermimpi mbak, insyaAllah nanti ada rezekinya kok.. Aku pun ga pernah nyangka bisa ke Jepang, padahal udah hampir pesimis. Alhamdulillah, ada kesempatan akhirnya. Semoga bisa ke Jepang juga ya bersama keluarga, aamiin :)

      Iya betul, itu pernikahan tradisional Jepang (khususnya bagi mereka yang menganut ajaran Shinto).

      Delete
  2. bikin mupeng hhuhu... seru banget ya lanjalan sama keluarga.. thanks for sharing indah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, seru banget mba Aie.. makasih juga udah mampir baca :)

      Delete
  3. Fotonya bagus2 Indaaaah.. jadi ngiler pengen kesana jugaa.. one day aamiin :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, makasih Bundo.. apalah aku yang masih belajar ini hihihihi..
      Aamiin, insyaAllah one day bisa ke sini juga kok Bundo :)

      Delete
  4. wishlist, salah satu negara yang pengen aku kunjungi. Jadi pengen beli kamera sebelum pergi ke jepang kayaknya. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya.. kalau bisa memang punya dokumentasi tersendiri selama di sana, minimal kamera HP yang mumpuni juga ga apa-apa. Kalau ada kamera khusus lebih asik lagi :D

      Delete
  5. nggak sabar ndah nungguin post selanjutnya....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ditunggu yaa... masih ada beberapa post lagi nih selanjutnya :)

      Delete
  6. prosesi adat pernikahannya keren banget ya.. mereka masih sangat kental melestarikan budayanya meskipun Jepang sudah sangat amat maju dalam teknologi. Salut banget !

    ReplyDelete