JAPAN TRIP - DAY #3 | KACHIKACHI-YAMA & OSHINO HAKKAI

12:30 AM


Assalamualaikum!

Fuji-yama atau Gunung Fuji pastinya identik dengan Jepang. Ya, tentu saja itu karena Fuji-yama merupakan gunung tertinggi di Jepang. Dan ketika mendapat info bahwa di hari ketiga ini kami akan ke Fuji-yama, saya bersemangat sekali mendengarnya!

Dalam perjalanan di hari ketiga ini, kami ditemani oleh seorang tour guide bernama Sachiko-san. Kami berangkat dari hotel di Ginza pukul 8 pagi dengan berjalan kaki terlebih dahulu ke Yūrakuchō Station, untuk naik Japan Railway (JR) rute Yamanote Line menuju Tokyo Station yang hanya berjarak 1 stasiun.

Berhubung saat itu adalah hari kerja, jadi sesampainya di Tokyo Station terlihat bagaimana sibuknya penduduk di Tokyo. Hal ini juga dikarenakan Tokyo Station adalah stasiun pusat bagi beragam jenis kereta (mulai dari subway, JR, sampai Shinkansen). Jika kita mendarat dari bandara Narita & ingin menuju pusat kota Tokyo dengan naik kereta, juga akan turun di stasiun ini.

Dari di Tokyo Station, langsung mencari pintu keluar menuju halte bus. Nah, di sini halte bus berjajar panjang dengan rute & tujuan yang berbeda-beda. Saya lupa untuk menuju Fuji-yama antara halte bus nomor 9 atau 11 (mungkin kalau ada yang hafal, boleh dibantu koreksi). Yang jelas, kami menunggu bus di halte yang menuju Kawaguchiko Station. Oh iya, kami sudah dibantu untuk reservasi tiket bus sebelumnya dengan biaya sekitar 1800 Yen sekali jalan. Perjalanan menggunakan bus ini memakan waktu selama 2,5 jam.

Tiba di Kawaguchiko Station, sebenarnya bisa pindah bus untuk menuju Fuji-yama 5th Stage yaitu tempat di mana kita bisa melihat Fuji-yama lebih dekat (kira-kira seperti stasiun pendakian). Namun setibanya kami di sana, tour guide kami mengabarkan bahwa akses untuk menuju Fuji-yama saat ini sedang ditutup karena cuaca. Kurang jelas sih hal cuaca apa yang menyebabkan akses ditutup. Sempat sedih sih ternyata tidak bisa melihat Fuji-yama lebih dekat.

Tapi tenang saja, karena bukan berarti kami harus kembali pulang. Akhirnya tour guide kami menyarankan untuk menuju Danau Kawaguchi yang jaraknya tidak jauh dari Kawaguchiko Station, hanya 10-15 menit berjalan kaki. Sebenarnya ga capek kok jalan kakinya, cuma karena 10-15 menit jalan kakinya cepat banget (karena harus menyeimbangkan kecepatan jalan kaki tour guide) jadilah kaki agak pegal awalnya. Tapi kalau jalan tanpa tour guide mungkin bisa lebih santai & tidak terburu-buru.

Danau Kawaguchi adalah satu dari 5 danau yang ada di sekitar kaki Fuji-yama, sekaligus menjadi danau paling panjang & paling mudah dijangkau dibandingkan 4 danau lainnya. Di danaunya sendiri ada perahu kayu, bebek apung, sampai jetski yang bisa kita sewa untuk berkeliling danau. Namun kami memilih menuju Kachikachi-yama Ropeway. Ada apakah di sana?


Kachikachi-yama Ropeway adalah salah satu tebing di sekitar Danau Kawaguchi yang dari puncak tebingnya kita dapat melihat pemandangan Danau Kawaguchi dari ketinggian sekaligus melihat panorama Fuji-yama & sekitarnya. Untuk mencapai puncak dari tebing Kachikachi-yama ini, kita harus menaiki kereta gantung dengan biaya 720 Yen pulang-pergi.

Dan benar saja, saat berada di atas tebing Kachikachi-yama pemandangannya sangat indah! Mungkin yang terlihat di foto tidak seindah penampakannya jika dilihat langsung oleh mata. Karena mata adalah kamera terbaik, bukan?

Di bagian atas tebing ini juga ada observatorium yang terdapat teropong pandang untuk melihat Fuji-yama lebih dekat. Sayangnya, saat itu puncak dari Fuji-yama tertutup kumpulanawan sehingga saat difoto tidak begitu jelas terlihat. Selain itu juga ada "Love Bell" yang dipercayai jika sepasang kekasih atau suami-istri bersama-sama membunyikan loncengnya, maka cinta mereka akan langgeng. Wallahu'alam.

Sebelum kembali turun dengan kereta gantung, jangan lupa untuk mencoba jajanan khasnya yaitu Tanuki Dango (jajanan manis dengan bahan utama tepung beras, sausnya memang antara terlalu manis bercampur asin sih... tapi rasa adonannya enak kok). Dan ketika sudah di bawah & keluar dari Kachikachi-yama Ropeway, jangan lupa mampir ke Fujiyama Cookie. Ini adalah toko oleh-oleh khas berupa cookies dengan bentuk Fuji-yama. Dari luar toko saja sudah tercium harumnya kue dibuat & ternyata rasanya pun enak!

Sebelum menuju destinasi selanjutnya, kami makan siang terlebih dahulu di Fuji Tempura Idaten yang jaraknya sekitar 5 menit jalan kaki dari Kawaguchiko Station. Duh, udah kebayang kan ingin makan tempura di sana. Ternyata oh ternyata, saat memilih menu ada tulisan kalau semua menu tempura yang disajikan menggunakan minyak yang sama untuk menggoreng pork alias daging babi. Jadi kami yang muslim tidak bisa memakannya, tapi senang juga sih karena restoran tersebut memberikan informasi yang jelas.

Akhirnya, kami diberikan pilihan menu yang proses memasaknya tidak digoreng. Saya & keluarga memilih Unaju (nasi dengan topping unagi / belut bakar) sebagai menu makan siang. MasyaAllah, ternyata enak banget. Terharu kenapa semua makanan yang baru saya coba enak semua di Jepang :")

  

Setelah makan siang, kami melanjutkan perjalanan menuju destinasi berikutnya yaitu ke Oshino Hakkai. Untuk menuju ke sana, dari Kawaguchiko Station kami semua memilih untuk menggunakan taksi. Memang sih harga taksi mahal di Jepang, tapi kami memilih taksi karena kami berburu waktu agar tidak ketinggalan dengan jadwal bis pulang saat kembali ke Tokyo nanti. Dengan naik taksi, waktu yang ditempuh untuk menuju Oshino Hakkai sekitar 15 menit. Jika ingin hemat biaya, bisa saja memilih untuk berjalan kaki.

Oshino Hakkai adalah lokasi wisata dimana terdapat 8 kolam ("Hakkai" dalam bahasa Jepang berarti "delapan", merujuk kepada jumlah kolam yang ada di sini) yang airnya bersumber dari mata air Fuji-yama. Kolam-kolamnya sendiri pun terbentuk dari proses lava dari Fuji-yama sendiri, sehingga kolam maupun mata air disini terbentuk secara alami. Oshino Hakkai ini juga menjadi salah satu world heritage yang ada di Jepang selain Fuji-yama.

Air-air yang ada di setiap kolam sangat bersih & jernih, bahkan juga menjadi tempat tinggal ikan-ikan beraneka warna. Pada beberapa kolam ada yang mempercayai sebagai "kolam keberuntungan" jika melempar koin ke dalamnya, namun menurut tour guide saya bahwa seharusnya para wisatawan tidak melemparkan koin ke dalamnya karena hal itu pun tidak dilakukan oleh masyarakat Jepang sendiri.

Saya juga setuju, karena lebih baik kita menjaga kebersihan lingkungan dengan tidak membuang apapun walaupun dikatakan ada "keberuntungan" ini-itu. Karena dengan tetap menjaga lingkungan yang bersih, maka akan tetap terjaga pula kealamiannya.


Oh iya, saat di sana suhunya 4 derajat celsius ditambah dengan angin pegunungan yang berhembus menjadikan udaranya sangat dingin. Bahkan saat berbicara saja keluar udara dingin dari mulut. Langitnya pun semakin mendung & saya pikir mungkin akan turun hujan. Tidak lama kemudian, ternyata memang turun hujan.

Eh, tapi kok air hujannya warna putih?

Ternyata bukan turun hujan, tapi turun salju! Waaaaa... my first snow experience!

Alhamdulillah,  pertama kalinya bisa melihat & merasakan turunnya salju. Sampai membuat saya bersemangat untuk berfoto di tengah turunnya salju. Tapi karena salju yang turun tidak lebat, jadi tidak terlihat jelas saat di foto. Pada beberapa foto ini, jika diperbesar akan terlihat butiran salju yang turun walaupun samar-samar.


Puas melihat salju turun, kami mampir ke toko suvenir yang ada di sana. Banyak sekali suvenir yang dijual mulai dari barang-barang untuk oleh-oleh hingga makanan & minuman. Yang saya pilih? Tentu jajanan!

Lihat penjual es krim, lagi-lagi berhasil membuat saya nekat untuk membelinya. Jadilah saya membeli es krim strawberry untuk dinikmati sambil menunggu Mama membeli oleh-oleh. Es krimnya lebih terasa seperti sorbet, yang rasanya tetap enak walaupun sambil dingin-dingin seru gimana gitu makannya.

Saya juga kembali membeli satu kotak buah strawberry segar yang rasanya manis itu. Kemasan kotaknya juga lucu sekali, bikin semangat mau beli & makan strawberry kan?


Sambil menunggu taksi untuk kembali ke Kawaguchiko Station, kami berfoto-foto di sekitar jalan & rumah yang ada di area ini. Terasa sekali suasana pedesaannya.

Saya rasa saat musim dingin pasti kawasan Oshino Hakkai ini akan sangat indah & tidak kalah bagusnya dengan kawasan Shirakawa-go, yang juga dikenal dengan pemandangan yang indah saat tertutup salju. Semoga suatu hari saya & keluarga bisa kembali ke sini saat musim dingin, untuk menyaksikan sendiri keindahan tersebut.

  

Perjalanan saya di hari ketiga ini sangat membekas di hati, terutama saat berada di Oshino Hakkai.
Saya sangat jatuh cinta dengan suasana pedesaan & tradisional seperti ini.

Namun perjalanan saya di Jepang belum berakhir, masih ada cerita selanjutnya. Stay tune!

Salaam,

You Might Also Like

6 comments

  1. Jepang emang menawarkan pemandangan yang bikin takjub ya.. btw naksir coatnya, cantik! ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banget! Langsung bikin rindu untuk kembali lagi.
      Alhamdulillah, makasih pujian buat coatnya :)

      Delete
  2. menyenangkan banget ya bisa traveling ke negeri idaman bareng keluarga

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, Alhamdulillah ada rezeki & kesempatan bisa kesana.. semoga mba aie & keluarga juga yaa :)

      Delete
  3. Fotonya bagus2, boleh tau kamera yg dipakai? Butuh rekomendasi nih kbetulan mau kesana winter ini..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semua foto yang ada di blog post ini (kecuali foto terakhir), pakai kamera Fujifilm X-A3 dengan lensa XF 35mm f/1.4

      Kalau foto terakhir pakai Samsung Galaxy S6

      Delete