The Lakeview Restaurant - Kintamani, Bali


Assalamualaikum!

Akhir bulan Desember biasanya banyak yang mengambil kesempatan untuk libur akhir tahun bersama keluarga, walaupun keluarga saya tidak begitu mengingat kesibukan setiap anggota keluarga yang berbeda-beda. Bicara soal liburan, Bali menjadi salah satu destinasi lokal favorit untuk berlibur bagi keluarga maupun bersama teman-teman.

Di bulan September yang lalu, saya bersama orangtua & adik saya berkunjung ke Bali untuk menghadiri undangan resepsi pernikahan anak rekan kerja Papa. Berhubung kami sekeluarga sudah cukup lama tidak berlibur, akhirnya kami menjadikan perjalanan ke Bali saat itu sekaligus untuk berlibur bersama keluarga.


Kami sekeluarga berada di Bali hanya dari Sabtu pagi hingga Minggu malam. Lalu dalam waktu sesingkat itu, bisa dapat destinasi wisata ke mana saja? Karena tujuan utama kami sekeluarga adalah untuk menghadiri resepsi pernikahan di daerah Bangli, kami pun memutuskan untuk menginap di daerah Kintamani. Dari hasil mencari-cari info via internet, akhirnya kami memilih The Lakeview Hotel & Restaurant, yang lokasinya sangat dekat dengan Gunung & Danau Batur.

Untuk review hotelnya, silakan cek di beberapa website travel & hotel untuk informasi lebih lanjut ya.. Karena saya sendiri saat itu memilih The Lakeview Hotel & Restaurant sebagai tempat penginapan karena lokasinya yang cukup dekat dengan lokasi resepsi pernikahan yang kami sekeluarga hadiri. Beberapa foto di blog post ini saya ambil saat kami sarapan di The Lakeview Restaurant sebelum check out dari hotel & melanjutkan perjalanan kami sekaligus menunggu waktu kembali ke Jakarta.


Seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya bahwa The Lakeview Hotel & Restaurant ini berlokasi cukup dekat dengan Gunung & Danau Batur di daerah Kintamani. Sehingga sudah jelas bahwa yang ditawarkan oleh tempat ini adalah pemandangan indah & memukau dari Gunung Batur dengan Danau Batur di sekitarnya.

Saya sendiri lebih menyukai daerah pegunungan dibanding dengan daerah pantai, karena saya lebih nyaman dengan udara yang dingin & segar serta pemandangan yang hijau dari pepohonan. Karena itulah saya sangat senang sekali ketika menginap & menikmati sarapan di lokasi seperti ini. Selain itu, bangunan The Lakeview Restaurant ini juga didominasi oleh bahan kayu sehingga sangat cocok dengan suasana & pemandangan sekitar.


The Lakeview Restaurant memiliki ruangan indoor maupun outdoor. Tidak perlu ditanyakan lagi ya yang menjadi favorit saya maupun pengunjung lainnya, sudah pasti adalah ruangan outdoor karena lebih leluasa melihat pemandangan. Namun jangan khawatir, Anda tetap bisa menikmati pemandangan dari ruangan indoor melalui jendela-jendela di sekelilingnya.

Hal lainnya yang membuat saya menyukai ruangan outdoor adalah banyak spot bagus untuk melihat view Gunung & Danau Batur sambil menikmati secangkir teh atau kopi. Sekaligus untuk berfoto-foto juga tentunya :)


Sekian sedikit review mengenai The Lakeview Restaurant di Kintamani, Bali. Semoga bisa menjadi salah satu rekomendasi ketika berlibur di Bali & singgah ke daerah Kintamani. Hmm.. menulis blog post ini saya jadi rindu untuk kembali menikmati pagi dengan indahnya Gunung & Danau Batur, udara yang sejuk, serta ditemani secangkir teh hangat..


Salaam,
IndahRP

Life Update: November 2015


Assalamualaikum!

Oh, I miss to keep blogging so bad! :(

Sudah 1 bulan lamanya tidak ada postingan baru di blog ini, padahal banyak sekali yang ingin saya bagikan disini (yang pada akhirnya semakin bertumpuk di draft). Walaupun sudah memasuki pertengahan bulan Desember 2015 & menuju 2016, tapi kali ini saya ingin menceritakan beberapa hal yang terjadi di bulan November 2015. Mengapa? Karena ada beberapa hal baru yang terjadi di bulan ini...

* * * * * * * * * *

- Resmi Menjadi Dokter Internsip -


Jika ada yang masih ingat, sekitar bulan Mei yang lalu saya sibuk mempersiapkan diri untuk Ujian Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD) seperti yang pernah saya ceritakan di sini. Selanjutnya pada bulan Agustus, Alhamdulillah saya telah melaksanakan pelantikan & sumpah dokter sehingga resmi menyandang gelar dokter (dr.) di depan nama saya yang juga pernah saya ceritakan pada postingan di sini.

Namun perjalanan saya belum selesai sampai di sana, karena saya masih harus menjalani Program Internsip Dokter Indonesia (PIDI) untuk pemantapan selama 1 tahun bagi para dokter yang baru disumpah seperti halnya saya sendiri. Hmm, pengertian awamnya kira-kira dokter internsip itu adalah dokter yang baru disumpah yang mengabdi pada Puskesmas & Rumah Sakit yang telah ditentukan oleh Kementrian Kesehatan (Kemenkes).

Awalnya, lokasi tempat pengabdian dokter internsip ini ditentukan langsung oleh Kemenkes. Namun pada beberapa tahun terakhir penentuan lokasi ini berlangsung secara online. Kira-kira seperti rebutan KRS di universitas-universitas, jadi siapa yang cepat (juga yang beruntung) akan lebih mudah mendapatkan lokasi yang diinginkan.

Nah, saat pemilihan lokasi ini lah benar-benar "portal combat". Beberapa teman saya bahkan ada yang mengibaratkan ini seperti "hunger games". Bayangkan saja, ada lebih dari 3000 dokter baru yang siap di tempatkan di beberapa lokasi di Indonesia yang masing-masing individu tentu memiliki pilihan untuk lokasi pengabdian mereka. Bagaimana dengan saya? Awalnya saya ingin sekali bisa mendapatkan lokasi pengabdian di Yogyakarta. Ya, saya rindu kembali menikmati keseharian saya di Yogyakarta seperti sebelumnya.

Namun... ketentuan Allah pun berkata lain, karena saya gagal pada hari pemilihan lokasi khusus di wilayah Yogyakarta. Sehingga saya harus kembali "bertarung" untuk pemilihan lokasi lainnya yang tersebar di Indonesia, tetapi lokasi-lokasi tersebut adalah lokasi yang belum terisi oleh para dokter yang berhasil memilih di hari pertama. Oke, saya mulai harap-harap cemas dimana saya akan mengabdi selama 1 tahun ke depan.


Dan akhirnya, saya mendapat tempat untuk mengabdi sebagai dokter internsip selama 1 tahun ke depan di daerah Cianjur, Jawa Barat. Inilah rencana Allah yang saya yakin jauh lebih baik dari keinginan saya, karena Alhamdulillah lokasinya lebih dekat dengan orangtua & keluarga. Jangan salah sangka dulu ya, bukan berarti saya tidak mau mengabdi di daerah yang lebih jauh. Namun, sejak SMA hingga kuliah yang kurang lebih 9 tahun lamanya saya jarang menghabiskan banyak waktu bersama dengan keluarga karena lokasinya jauh dari rumah.

Saya resmi menjalankan program dokter internsip pada bulan November 2015 ini, bersama dengan 18 dokter internsip lainnya yang berasal dari berbagai Fakultas Kedokteran di Indonesia. Selama 4 bulan pertama, saya ditempatkan di salah satu Puskesmas di daerah Cianjur bersama 6 dokter internsip lainnya & ditempatkan di rumah sakit untuk 8 bulan selanjutnya. Alhamdulillah, sampai saat ini sudah 1 bulan kami lewati dengan cukup lancar. Semoga semuanya lancar hingga selesai di November 2016 nanti aamiin..

- Indah Riyanti Putri, 24 tahun -


Di bulan November 2015 selain resmi menjadi dokter internsip, saya juga resmi berusia 24 tahun. Wah, udah pertengahan umur 20an ternyata.. Alhamdulillah, selama 24 tahun ini masih diberikan kesempatan oleh Allah dalam keadaan sehat wal 'afiat bersama keluarga, teman, & orang-orang di sekitar yang insyaAllah selalu memberikan dukungan dunia & akhirat. Alhamdulillah, satu per satu harapan di tahun-tahun sebelumnya Allah mudahkan jalan untuk meraihnya..

Manusia hanya bisa berencana & berusaha, karena Allah yang akan menentukan. Karena itulah masih banyak harapan yang ingin saya raih, semoga Allah memberikan saya, keluarga, & kita semua umur yang barokah & bermanfaat tidak hanya di dunia namun juga untuk di akhirat kelak. Aamiin..


* * * * * * * * * *

Sekian sedikit cerita saya selama bulan November 2015 kemarin, tulisan ini bukan bermaksud untuk pamer atau curhat tidak penting ya.. Namun untuk melepaskan rindu saya untuk menulis & berbagi cerita lewat blog ini. Hope you all enjoy to read it! :)

Have a nice day, good people!

Salaam,
IndahRP


Jakarta Fashion Week 2016: #COIDENTITY


Assalamualaikum!

Halo, November! Akhirnya kita semakin dekat dengan akhir tahun 2015. Seperti biasa terdapat acara menarik yang rutin diadakan setiap tahunnya. Salah satu diantaranya adalah Jakarta Fashion Week. Tahun ini adalah Jakarta Fashion Week (JFW) 2016, yang diadakan 24-30 Oktober 2015.

Saya berkesempatan menghadiri salah satu dari fashion show pada Jakarta Fashion Week 2016, yang diadakan pada hari Senin, 26 Oktober 2015 di Fashion Tent JFW, Senayan City. Fashion show tersebut adalah #COIDENTITY by Dian Pelangi, Odette Steele, & Nelly Rose. Terima kasih Dian Pelangi & DP team untuk undangannya!

- The Runway -

BirdCage Songket
Cekakak Pleated Dungarees & Monochrome Lorikeet Top

Perhelatan Jakarta Fashion Week 2016 merupakan sebuah momentum bagi Dian Pelangi. Fashion show #COIDENTITY adalah hasil kolaborasi Dian Pelangi dengan dua desainer tekstil lulusan London College of Fashion (LCF)Odette Steele & Nelly Rose yang tergabung dalam rangkaian Fashion Mission.

The Lotus Jacket + Trousers & Lotus Embroidered Top
Finch Embroidered Top & Identity Songket

Fashion show Dian Pelangi kali ini adalah berbeda dengan koleksi-koleksi Dian Pelangi sebelumnya, karena Dian memutuskan untuk keluar dari zona nyamannya selama ini. Dengan tema #COIDENTITY, koleksi ini adalah sebuah kolaborasi yang mewujudkan perpaduan budaya & identitas dari ketiga desainer dengan latar belakangnya masing-masing; Indonesia, Inggris, & Zambia. Sangat menarik!

Cekakak Dungarees & Turtleneck Top
Black Stripe Cape, Toucan Top, & Hareem Pants
Pelangi Songket Coat + Jumpsuit
Pelangi Songket Coat + Jumpsuit
Cendrawasih Jacket & Cendrawasih Skirt

Motif yang dibawakan terinspirasi dari warna-warni aneka ragam burung di Indonesia, yang diterjemahkan secara abstrak, termasuk dengan sentuhan graffiti yang sering terlihat di daerah perkotaan Eropa. Setiap ciri khas & identitas dari ketiga desainer jelas terlihat dalam setiap koleksi dari #COIDENTITY, mulai dari warna & print modern khas London yang dibawa oleh Nelly Rose, sulaman & payet khas Afrika yang dibawa oleh Odette Steele, semuanya dalam balutan desain Dian Pelangi melalui batik, jumputan (tie-dye), & tenun songket yang merupakan khas Indonesia.

Lorikeet Jacket
Peacock Tassel Dress

Melalui kolaborasi lintas bangsa dalam #COIDENTITY ini, diharapkan bahwa jarak antara modest fashion & mainstream fashion akan semakin membaik. Semoga persepsi dunia mengenai modest-wear tidak hanya mengenai keseragaman warna maupun corak, namun dapat berjalan beriringan seiring berjalannya zaman. Di sisi lain, dalam makna spiritual tetap harus sesuai dengan gaya hidup, budaya, identitasnya masing-masing. Walaupun peminatnya mayoritas adalah Muslimah, modest fashion sebenarnya dapat dikenakan oleh siapa saja.

Pelangi Batik Jumpsuit
Flameback Batik Gown
Cockatoo Embroidered Collar & Cockatoo Gradiant Dress

Dengan membawakan total 24 looks, tidak ada satupun identitas tunggal yang disajikan dalam setiap pakaian. Setiap desain benar-benar merupakan gabungan dari ciri khas Dian Pelangi, Odette Steele, & Nelly Rose. Setiap desain benar-benar detail & buatan tangan! Saya sendiri tidak bisa membayangkan bagaimana kerja keras Dian, Odette, Nelly, & semua tim mempersiapkan koleksi #COIDENTITY dalam beberapa bulan terakhir.

- The Finale -

The designers: Nelly Rose - Dian Pelangi - Odette Steele

Congratulation for Dian Pelangi, Odette Steele, & Nelly Rose.. What a wonderful collection! I love every detail in every pieces of your design, it made me want to have them all.

Terdapat beberapa desain yang menjadi favorite looks saya dari show #COIDENTITY, yang membuat saya jatuh hati sejak pertama kali melihatnya :)

My favorite looks:
Finch Embroidered Top & Songket Identity (upper left) --- Pelangi Tunic & Finch Cape (upper right)
Pelangi Songket Coat + Jumpsuit (lower left & right)

(source: from various instagram account)

IndahRP's favorite looks from #COIDENTITY

1. Finch Embroidered Top & Songket Identity
Dari awal saya melihat model keluar dari backstage menuju runway, saya langsung naksir dengan desain yang satu ini. Ya, bagi saya perpaduan hitam & gradasi warna merah tidak pernah gagal. Saya sangat menyukai tunik berwarna hitam dengan crop top berbahan songket, ditambah celana kulot dengan songket yang sama. Glamor namun tidak berlebihan, di sisi lain tetap terlihat sederhana namun tetap modis.

2. Pelangi Tunic & Finch Cape
Apa yang saya sukai dari desain ini adalah kata "PELANGI" yang ditulis dengan teknik batik di seluruh bagian tunik. Kata "PELANGI" sangat merepresentasikan Dian Pelangi. Jika dilihat dari kejauhan, tunik ini tampak motif seperti tulisan abstrak. Namun siapa yang mengira, jika kita lihat lebih dekat semuanya tertulis "PELANGI". What a brilliant idea!

3. Pelangi Songket Coat + Jumpsuit
Sama halnya seperti Pelangi Tunic, pada desain Pelangi Songket Coat jika dilihat lebih detail terdapat banyak kata "PELANGI" dengan teknik print modern khas London dalam bahan songket. Pelangi Songket Coat ini pun semakin cantik dipadukan dengan jumpsuit jumputan (tie-dye). Wanna have one like this!

after the show
(source: from kak Mimi's camera, edited by myself)

Sedikit membahas soal pakaian yang saya pakai saat menghadiri show #COIDENTITY kemarin, saya memilih perpaduan warna maroon & hitam. Saya memadukan basic abaya berwarna maroon dengan vest berwarna hitam sebagai kontras. Semoga tidak dinilai buruk oleh para fashion police :)

What I wore:
Kaffah scarf in maroon // Una Style vest // Kivitz basic abaya in maroon

Demikian ulasan saya mengenai  show #COIDENTITY di Jakarta Fashion Week 2016. Semoga saya berkesempatan untuk melihat show lainnya pada Jakarta Fashion Week berikutnya.

Salaam,
IndahRP

#JogjaTrip: Merapi Lava Tour

Assalamualaikum!

Kembali lagi di blog post #JogjaTrip, yaitu cerita jalan-jalan saya di sekitar Yogyakarta. Seperti biasa, saya akan berbagi cerita mengenai destinasi wisata, kuliner, & tempat menarik lainnya dari sudut pandang saya sendiri. Untuk cerita #JogjaTrip saya sebelumnya, bisa dilihat di sini.

Kali ini saya akan berbagi pengalaman saya saat mencoba salah satu jenis pariwisata di daerah lereng Gunung Merapi, khususnya pasca terjadinya erupsi merapi pada tahun 2010 lalu. Bisa tebak apa yang saya coba? Ya betul, Merapi Lava Tour!

Masih ingat kan dengan peristiwa erupsi Gunung Merapi pada tahun 2010? Bencana alam yang mengakibatkan banyak korban jiwa maupun harta benda dari para penduduk yang tinggal di sekitar lereng Gunung Merapi. Banyak duka yang dirasakan & tidak sedikit penduduk yang kehilangan pekerjaannya (yang mayoritas sebagai petani atau peternak sapi).

Namun seiring berjalannya waktu, para penduduk tersebut mulai bangkit untuk menghidupi keluarganya serta mengembalikan daya tarik dari keindahan Merapi. Salah satunya adalah dengan dibentuknya "Merapi Lava Tour" sebagai salah satu kegiatan pariwisata yang ada di sekitar lereng Gunung Merapi.


Saya mengikuti Merapi Lava Tour pada awal bulan Agustus lalu bersama Papa, Adik, sepupu, oom & tante bersama anak-anaknya. Perjalanan kami kali ini bisa dibilang cukup spontan, karena sebenarnya saat itu H-1 acara sumpah & pelantikan dokter saya. Sehingga kami benar-benar tidak tahu bagaimana mencari pemandu & hal lainnya seputar kegiatan ini.

Kami berangkat dari hotel di daerah Jl. Laksda Adisutjipto sekitar pukul 07:00 pagi & sampai di daerah wisata lereng Gunung Merapi di daerah Kaliurang sekitar 20 menit kemudian. Setelah melewati gerbang masuk daerah wisata Kaliurang (kebetulan petugasnya belum datang, jadi kami belum dikenai biaya masuk), kami menuju ke Tugu Udang. Jika bingung dimana lokasi Tugu Udang, tanya saja kepada penduduk sekitar.

Awalnya cukup kebingungan karena saat itu kami tidak tahu di mana mencari pemandu untuk kegiatan "Merapi Lava Tour" ini. Namun saat melihat di sekitar Tugu Udang, ternyata ada spanduk besar berisi informasi tentang Lava Tour tersebut. Ada nomor HP yang bisa dihubungi (karena saat itu kantornya tutup), sehingga Papa bisa langsung menghubunginya. Berhubung saat kami datang adalah hari kerja, sehingga kantornya tidak buka seperti saat akhir pekan yang cenderung lebih ramai pengunjung.


Tidak sampai 10 menit, akhirnya pemandu wisata kami datang & kami langsung pesan 2 mobil jeep dengan masing-masing mobil dipandu oleh 1 orang pemandu. Setelah mobil jeep siap, langsung saja kami duduk di mobil jeep & siap untuk berpetualang! Sebelumnya, kami membeli kuliner khas bernama Jadah Tempe ("jadah" artinya uli ketan, dengan tempe bacem sebagai lauknya).

Segar sekali rasanya pagi hari naik mobil jeep terbuka. Terbayang kan bagaimana dinginnya udara di lereng gunung? Walau agak dingin namun tetap menyenangkan karena dengan naik mobil jeep terbuka seperti ini kita bisa puas melihat pemandangan dari berbagai arah & menghirup udara segar sebebas-bebasnya. Saluran pernafasan rasanya jadi bersih.

Selama perjalanan, pemandu wisata kami menjelaskan bagaimana peristiwa erupsi Gunung Merapi yang terjadi pada tahun 2010 lalu. Kami ditunjukkan 1 desa yang habis terkena awan panas akibat peristiwa tersebut. Rumah-rumah tersebut hancur & kini tidak berpenghuni lagi, karena oleh pemerintah daerah setempat sudah dilarang untuk dijadikan pemukiman bagi penduduk. Sehingga para penduduk di daerah tersebut saat ini direlokasi ke hunian tetap yang lebih aman. Di beberapa lokasi ada yang tanahnya masih gersang karena belum ditanami lagi, tapi juga ada yang sudah ditanami kembali oleh beragam pohon.


Akhirnya kami tiba di lokasi pertama, yaitu Museum Mini Sisa Hartaku (MMSH). Museum mini ini pada dasarnya adalah salah satu rumah dari banyaknya pemukiman penduduk lereng Gunung Merapi yang terkena awan panas saat erupsi Merapi pada tahun 2010 lalu. Saat memasuki rumah tersebut, biasanya tour guide akan membawa pengunjung ke "Bukti Jam Erupsi".

Terdapat satu jam dinding tergantung pada salah satu dinding rumah, jam dinding ini merupakan salah satu barang yang tersisa di rumah ini. Pada awalnya, jam dinding ini layaknya jam dinding biasa pada umumnya. Lalu apa yang membuat jam dinding ini istimewa? Coba lihat jarum-jarum jam tersebut menunjukkan pada pukul berapa? Inilah waktu erupsi Merapi terjadi. Ketika awan panas dari erupsi Merapi mengenai rumah ini, seketika jam dinding pun berhenti berdetik. Inilah yang menjadi pengingat bagi penduduk sekitar & para pengunjung bahwa bencana alam tersebut memang telah terjadi, yaitu hari Jum'at, 5 November 2010 pada pukul 12:05 siang.

Selain "Bukti Jam Erupsi", masih ada barang-barang lainnya yang ada di MMSH sebagai bukti dari terjadinya awan panas erupsi Gunung Merapi. Cukup merinding dibuatnya, terlebih kalau membagaikan bagaimana saat peristiwa tersebut terjadi. Benar-benar kuasa Allah.


Setelah kunjungan singkat ke MMSH, kami kembali menaiki mobil jeep untuk melanjutkan perjalanan ke lokasi selanjutnya. Di pertengahan jalan kami sempat berhenti, karena pemandu wisata berinisiatif untuk mengambil foto saat kami berada di atas mobil jeep. Nah, cocok nih bagi yang suka difoto selama jalan-jalan (seperti saya). Anda tidak perlu khawatir atau merepotkan orang lain untuk minta difoto, karena para pemandu wisata akan siap mengambil foto melalui kamera atau gadget Anda.


Lokasi berikutnya semakin mendekat dengan Gunung Merapi, sehingga bisa lebih jelas melihat indahnya pemandangan di sana. Di lokasi ini biasanya dimanfaatkan oleh para pengunjung untuk berfoto, apalagi tempatnya juga sangat lapang sehingga bisa menjadi lokasi foto dari sudut manapun. Kami pun tidak mau ketinggalan untuk berfoto, sekaligus sebagai bukti sudah pernah menikmati kegiatan "Merapi Lava Tour" ini.

Di lokasi ini juga, pemandu wisata menunjukkan sebuah batu besar yang disebut "batu wajah" oleh penduduk sekitar. Batu ini adalah bongkahan batu besar dari guguran saat Gunung Merapi erupsi, yang jika dilihat dari salah satu sisi membentuk seperti wajah manusia. Wallahu'alam. Tapi sejak awal erupsi sampai sekarang batu tersebut dibiarkan apa adanya di sana.


Seperti yang saya katakan sebelumnya, bahwa pemandu wisata di sini akan merangkap menjadi fotografer pribadi Anda. Beberapa foto di bawah ini misalnya, semuanya adalah hasil foto dari pemandu wisata kami menggunakan smartphone pribadi saya. Tidak kalah kan hasilnya dengan fotografer lainnya. Terlebih didukung dengan langit yang sangat cerah & cahaya matahari yang mendukung. Bagus bukan? :)


Setelah puas foto-foto, kami melanjutkan perjalanan ke lokasi berikutnya yaitu bunker di daerah Kaliadem. Di sini juga ada beberapa warung kecil yang menyediakan minuman hangat maupun mie instan untuk mengisi perut yang kebetulan belum sarapan seperti kami semua ini. Selain sebagai lokasi pemberhentian untuk istirahat sejenak, ada cerita lain mengenai bunker yang ada di sini. Yaitu kisah tentang 2 orang relawan yang terperangkap di dalam bunker saat menyelamatkan diri dari erupsi Gunung Merapi tahun 2010 lalu. Namun sayang, karena bunker tersebut dibangun bukan untuk perlindungan diri bagi manusia, akhirnya kedua relawan tersebut meninggal dunia.



Lokasi terakhir yang kami kunjungi adalah sebuah sungai yang sebelumnya kami lewati lewat atas jalan saat menuju lokasi pertama. Sungai ini memang sengaja dijadikan lokasi penutup dari rangkaian "Merapi Lava Tour" ini. Di sini ada 2 jalur sungai yang bisa dilewati oleh mobil jeep, yaitu jalur yang airnya lebih dangkal & jalur dengan air yang lebih deras arusnya. Namun berhubung kami membawa anak kecil & tidak membawa baju ganti, akhirnya kami memilih jalur pertama yang tidak terlalu ekstrim untuk berbasah-basah. Walaupun jika duduk di depan tetap jadi basah kuyup sih..


Tips menikmati Merapi Lava Tour a la IndahRP
1. Hindari akhir pekan, hari libur, atau musim liburan sekolah
Jika ingin menikmati kegiatan "Merapi Lava Tour" yang lebih santai & tidak terburu-buru, saya sarankan untuk menikmatinya saat hari kerja. Mengapa? Karena jika memilih untuk menikmati kegiatan ini saat akhir pekan, hari libur, atau musim liburan sekolah, Anda harus siap-siap dengan ramainya pengunjung sehingga waktu kegiatan pun kadang menjadi lebih singkat.

2. Berangkat lebih pagi
Dengan berangkat lebih pagi dari penginapan di Yogyakarta, tentu akan sampai di lokasi "Merapi Lava Tour" lebih awal. Sehingga tidak perlu berlama-lama mengantri. Selain itu juga untuk menghindari cuaca yang cukup panas jika berada di lokasi pada siang hari. Waktu yang disarankan adalah sebelum matahari terbit untuk menikmati sunrise di lereng Gunung Merapi, atau pagi hari seperti yang saya lakukan.

3. Pakai jasa pemandu wisata setempat
Kalau tidak salah, sebenarnya pengunjung bisa menyewa mobil jeep untuk dikendarai jika memang sudah mengetahui rute yang akan dilalui. Namun sebenarnya akan lebih disarankan untuk memilih paket sewa sekaligus dengan jasa pemandu wisata. Para pemandu wisata akan bertugas sebagai pengendara mobil jeep, pemandu, sekaligus fotografer pribadi.

4. Siapkan pakaian ganti jika berencana melintasi sungai
Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, bahwa di akhir kegiatan "Merapi Lava Tour" ini kita akan dibawa untuk melintasi sungai dengan mobil jeep. Jika berencana untuk melintasi sungai dengan aliran air yang cukup deras, ada baiknya mempersiapkan pakaian ganti karena pasti akan basah kuyup setelahnya. Apalagi bagi yang duduk di bagian depan :)

5. Sunblock/sunscreen is a must!
Bagi yang memiliki wajah yang cukup sensitif terhadap sinar matahari seperti saya, jangan lupa ya untuk memakai sunblock atau sunscreen sebelum melakukan kegiatan "Merapi Lava Tour". Khususnya jika dilakukan pagi & siang hari, karena lokasi yang berada cukup tinggi sehingga sinar matahari pun akan lebih dekat mengenai kulit. Kebetulan saat saya pergi, saya lupa memakai sunblock sehingga saat pulang kulit wajah & tangan kemerahan terkelupas.

* * * * * * * * * *

Sekian cerita & tips saya seputar #JogjaTrip: Merapi Lava Tour. Semoga blog post ini bermanfaat & bisa menjadi salah satu pilihan destinasi wisata saat Anda berkunjung ke Yogyakarta.

Salaam,
IndahRP